LAPORAN PEMBELAJARAN LUAR KELAS
DI BALAI INFORMASI DAN KONSERVASI KEBUMIAN
KARANGSAMBUNG
DISUSUN OLEH :
NAMA : ENGGAR THIA CAHYANI
KELAS : X - 5
NO. ABS : 11
SMA NEGERI JATILAWANG
TAHUN PELAJARAN 2014/2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan laporan pembelajaran luar kelas di Balai Informasi dan Konservasi Kebumian Karangsambung.
Tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada Bapak/Ibu Guru pembimbing, Ka Fitriani Amelia Wardhani (Ka Dhani) selaku pemandu, serta teman-teman yang sudah membantu saya dalam menyelesaikan laporan ini dengan baik.
Laporan ini saya buat untuk memenuhi tugas mata pelajaran Geografi dan sebagai evaluasi dari kegiatan pembelajaran luar kelas di Balai Informasi dan Konservasi Kebumian Karangsambung.
Saya menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun saya harapkan dari semua kalangan untuk kesempurnaan laporan ini.
Semoga laporan pembelajaran luar kelas ini bermanfaat bagi semua pihak. Terima kasih.
Jatilawang, April 2015
Enggar Thia Cahyani
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Karangsambung merupakan daerah kawasan tropis yang tidak luas namun menyimpan fenomena geologi dan aneka batuan unik dan langka. Karangsambung memiliki jenis batuan yang beragam selain batuan beku, sedimen, dan metamorf. Karangsambung mempunyai formasi yang khas yaitu bentuk morfologi yang lonjong dan berbukit-bukit dengan formasi batuan yang berbeda-beda, stratigrafi daerah ini sangat khas dan membentuk formasi yang beragam, struktur geologi pada Karangsambung terdiri dari lipatan, sesar dan kekar.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana keadaan morfologi daerah Karangsambung?
2. Bagaimana proses pembentukan morfologi Karangsambung?
3. Kenapa Karangsambung memiliki jenis batuan yang beragam?
4. Batuan apa saja yang terdapat di Karangsambung?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui keadaan morfologi Karangsambung.
2. Untuk mengetahui proses yang mempengaruhi morfologi Karangsambung.
3. Untuk mengetahui penyebab beragamnya jenis batuan di Karangsambung.
4. Untuk mengetahui batuan yang terdapat di Karangsambung.
1.4 Manfaat
Manfaat yang diperoleh dari kegiatan pembelajaran luar kelas di Balai Informasi dan Konservasi Kebumian Karangsambung adalah :
1. Dapat mempelajari dan menambah pengetahuan tentang morfologi Karangsambung.
2. Dapat mengetahui dan mengidentifikasi batuan yang terdapat di Karangsambung.
BAB 2
ISI
2.1 Study Pustaka
Karangsambung terletak di Kabupaten Kebumen, provinsi Jawa Tengah. Daerah Karangsambung oleh para ahli geologi sering disebut sebagai lapangan terlengkap di dunia. Karangsambung merupakan jejak-jejak tumbukan dua lempeng bumi yang terjadi 117 juta tahun sampai 60 juta tahun yang lalu. Ia juga merupakan pertemuan lempeng Asia dengan lempeng Hindia. Ia merupakan saksi dari peristiwa subduksi pada usia yang sangat tua yaitu pada zaman Pra-Tersier. Di daerah ini terjadi proses subduksi pada sekitar zaman Paleogene (Eosen, sekitar 57,8 juta sampai 36,6 juta tahun yang lalu). Oleh karena itu, pada tempat ini terekam jejak-jejak proses paleosubduksi yang ditunjukan oleh singkapan-singkapan batuan dengan usia tua dan merupakan karakteristik dari komponen lempeng samudera. Karangsambung merupakan tempat singkapan batuan terbesar batuan-batuan dari zaman Pre-Tersier yang terkenal dengan sebutan Luk Ulo Melange Complex , suatu melange yang berhubungan dengan subduksi pada zaman Crateceous (145.5 ± 4.0 hingga 65.5 ± 0.3 juta tahunyang lalu) yang diperkirakan berumur 117 juta tahun.
Tersingkapnya batuan melange di daerah Karangsambung ini disebabkan oleh adanya tektonik kompresional yang menyebabkan daerah tersebut dipotong oleh sejumlah sesar-sesar naik disamping adanya pengangkatan dan proses erosi yang intensif. Apabila diperhatikan bahwa posisi batuan melange ini dijumpai di sekitar inti lipatan antiklin dan di sekitar zona sesar naik dan kenyataannya pada saat sekarang posisi inti lipatan ini berada di bagian lembah yang didalamnya mengalir aliran sungai Luk Ulo yang menunjukan bahwa di daerah tersebut proses erosi berlangsung lebih intensif.
2.2 Hasil Observasi
Di Karangsambung terdapat batuan Pra-Tersier dengan jenis batuan yang beragam serta tatanan dan struktur geologi yang kompleks. Kondisi geologi yang kompleks ini terbentuk karena pada daerah Karang Sambung merupakan zona meratus, yaitu daerah pertemuan antara lempeng (subduksi) yang terangkat.
l Identifikasi batuan Karang Sambung
Pada pembelajaran luar kelas ini, telah dilakukan kunjungan ke beberapa tempat untuk mengetahui jenis-jenis batuan serta formasi yang terdapat di Karang Sambung ini. Tempat-tempat tersebut antara lain, Desa Totogan (Morfologi Totogan), Desa Pucangan, Kali Muncar (Watukelir), Sungai Luk Ulo, Gunung Parang (Desa Karang Sambung).
a) Desa Totogan (Morfologi Totogan)
Gambar 1. Formasi Totogan
Bukit sebelah utara terbentuk karena adanya tenaga eksogen sehingga mengakibatkan munculnya batu melangs (campur-campur) atau pada satu bukit terdiri dari bermacam-macam batu dan berusia tua. Bukit sebelah selatan terbentuk karena adanya tenaga endogen yang mengakibatkan munculnya batu sedimen (batu breksi, batu pasir) dan berusia muda. Ketika batu mengalami tekanan yang kuat dan terus menerus maka batu itu akan terlipat dan patah. Batu yang patah akan menyebabkan adanya sungai dan gunung yang runcing.

Berdasarkan amphitheatre Karang Sambung pada 45-36 juta tahun yang lalu tersebut dapat diketahui adanya daerah lipatan. Lipatan terdiri dari antiklinal (punggung lipatan) dan sinklinal (lembah lipatan). Pada lipatan tersebut terjadi perubahan antiklinal dan sinklinal yaitu antiklinal yang mengalami proses pembalikan dan menjadi lembah karena patahan sehingga sinklinal menjadi puncaknya. Lembah akan semakin turun karena lembah sinklinal terus mengalami erosi. Kedua bukit yang dihubungkan dengan amphitheatre tersebut dapat berdampingan karena terjadi patahan yang membentuk lembah.
Adanya arus konveksi yang menyebabkan 2 lempeng saling bertubrukan dan hancur, lempeng samudera terus menekan dan naik ke permukaan dengan bentuk campur aduk. Batu muda dan batu tua dipisahkan oleh patahan. Patahan naik karena saling mendekat dan jika menurun maka mengalami peregangan.
b) Desa Pucangan
Gambar 4. Batu Serpentinit
Di desa Pucangan terdapat batuan serpentinit, yang termasuk dalam jenis batuan metamorf. Batu ini berwarna hijau, bertekstur masif, serta berkilap. .Strukturnya slincken side, nonfoliasi. Batuan ini asalnya merupakan batuan beku ultramafik yang telah mengalami proses methamorfosis yang berhubungan dengan air laut.
Batuan serpentinit merupakan batuan metamorf yang terbentuk dari mineral serpentin akibat perubahan basalt dasar laut yang bertekanan tinggi pada temperatur rendah. Mineral serpentin tergolong dalam kelas mineral Silikat yaitu Phyllosilicates. Kemudian batu ultrabasa bergerak bersama lempeng samudera dan masuk zona subduksi, terjadi proses penunjaman disertai metamorfosa kedua menjadi batu serpentinit, dan terakhir muncul ke luar perut bumi disertai retak-retak dikarenakan tekanan.
Batu serpentinit sering digunakan sebagai bahan baku pembuatan asbes (mengandung serat asbestos) dan ornamen patung.
c) Kali Muncar (Watukelir)
Gambar 5. Batu gamping merah, rijang merah, dan lava bantal di Kali Muncar (Watukelir)
Kali Muncar terletak di Kecamatan Sadang dan warga sekitar sering menyebut kali ini dengan Watukelir karena seperti tempat pertunjukan wayang. Disini terdapat batu sedimen 2 lapis dan batu beku yaitu :
l
Batu rijang merah (sedimen) warna merah pekat
l
Batu gamping merah (sedimen) warna merah muda
l Batu lava bantal (beku)
Ciri-ciri dari batu sedimen 2 lapis :
u Berwarna cerah
u
Merupakan batuan klastik (terbentuk dari rombakan batuan sebelumnya) batu rijang merah
u
Merupakan batuan non klastik (terbentuk karena pelapukan kimiawi/kristalisasi) batu gamping merah
u Terbentuk di dasar samudera (laut dalam) sekitar 100 juta tahun lalu
u Batu gamping bereaksi dengan HCl (asam klorida) karena mengandung CaCO3
u Batu rijang tidak bereaksi dengan HCl karena mengalami proses kristalisasi
Batu gamping merah memiliki warna merah dengan butiran halus. Pada batuan, jika semakin dekat dengan sumbernya maka teksturnya semakin kasar. Proses terbentuknya batuan ini secara singkat yaitu lempeng samudera bergerak ke batas subduksi sehingga yang semula horizontal menjadi vertikal dan batuan di dasar samudera menjadi terangkat ke atas.
Batu lava bantal termasuk batuan beku luar jenis basalt yang berasal dari letusan gunung api, lebih tepatnya gunung api dasar laut. Prosesnya berawal dari pemekaran lantai samudra, kemudian muncul gunung api yang memuntahkan lava. Selanjutnya lava membeku ketika terkena air laut. Bentuknya bulat lonjong sehingga sering disebut pillow lava. Batuan basalt ini biasanya berwarna hitam dan bersifat asam. Dasar dari batuan ini yaitu tanah lempung.
d) Tepi Sungai Luk Ulo (kaki Bukit Sipako)
Gambar 6. Batu filit
Pada daerah ini terdapat batuan filit yang termasuk ke dalam jenis batuan metamorf. Batu ini terbentuk dari hasil sedimen palung laut dalam (endapan palung). Berwarna hitam, abu-abu, berekstur lapidoblastik (terdiri dari mineral-mineral tabular). Strukturnya filitik (sudah terlihat lapisan-lapisan mineral tapi sedikit), terlihat rekristalisasi yang lebih kasar dari slaty cleavage, sudah mulai terjadi pemisahan mineral granular (segresi) tetapi belum sempurna. Ukuran butirnya halus.
Di tepi Sungai Luk Ulo juga banyak ditemukan batuan dari jenis metamorf dan sedimen. Contohnya, batu sekis mika, batu setengah metamorf, batu kapur, batu foliasi metamorf, batu rijang, batu porfiritik, dan masih banyak lagi.
e) Gunung Parang
Gambar 7. Batu diabas
Batu diabas di Gunung Parang berumur 22-34 juta tahun yang merupakan klasifikasigenetis dari kekar berupa kekar kolom (columnar joint).
Kekar kolom :
· Terbentuk ketika magma mencapai permukaan bumi, kekar kolom mendingin secara bertahap dari bagian luar ke dalam, dan menghasilkan pola hexagonal.
· Kekar kolom biasa ditemukan pada intrusi atau ekstrusi batuan beku dekat permukaan, contohnya pada basaltik, sill, dike dan aliran lava.
· Bidang aliran tegak lurus terhadap bidang pendinginan.
Singkapan batuan beku tersebut merupakan batuan beku intrusif, dimana intrusi magma melewati retakan sebagai sebuah sill.
Sill :
· intrusi batuan beku yang konkordan atau sejajar terhadap perlapisan batuan yang diterobosnya.
· Jenis batuan beku tersebut adalah diabas (diabase).
Karakteristik diabas :
· Batuan beku berwarna abu-abu
· Berbutir sedang
· Mineral piroksen dan plagioklas berbentuk seperti jarum yang saling bersilangan
· Terbentuk dari magma yang menerobos hingga dekat ke permukaan.
Semakin lama magma membeku maka pembentukan mineralnya akan semakin sempurna, sebaliknya jika pembekuan magma berlangsung cepat maka mineralnya cenderung akan pecah. Batu diabas ini banyak ditambang untuk keperluan pondasi rumah atau bangunan.
f) Bengkel dan Museum Batuan LIPI
Di bengkel batuan, dapat dilihat proses pembuatan kerajinan batuan mulai dari memilih bahan, memotong dan membentuk batuan. Selain itu dapat pula dibeli dan dipesan produk kerajinan. Batu yang dibawa dari lapangan juga dapat diproses menjadi cincin atau batu poles. Selain itu, kita juga bisa melihat berbagai koleksi batuan yang ada di Karang Sambung, model tektonik, dan peraga yang menggambarkan proses dinamika bumi di Museum.
Di daerah Karangsambung ini terkumpul beraneka jenis batuan, berukuran kerikil hingga sebesar bukit, yang berasal dari sejarah dan umur yang berbeda-beda. Batuan yang terkumpul ini bercampur aduk oleh proses geologi selama jutaan tahun. Campur aduk batuan tersebut diberi istilah mélange. Namun sebenarnya, batuan itu berasal dari kelompok batuan pembentuk lempeng benua dan lempeng samudera. Bahannya berasal dari dalam perut bumi sendiri.
Menurut teori tektonik lempeng, kulit bumi tersusun oleh lempeng-lempeng yang bersifat mobile (dapat bergerak), bergerak satu sama lain saling menjauh, berpapasan atau bertabrakan. Kecepatan pergerakan lempeng ini rata-rata 10 cm per tahun. Jika dua lempeng bertabrakan pada zona pertemuan dua lempeng, terjadi pencampuran batuan dari kedua lempeng. Salah satu bukti adanya pertemuan antara lempeng benua dengan lempeng samudera terdapat di Karang Sambung.
Penemuan pertama batuan tua di Karangsambung yang disebut sebagai batuan Pra-Tersier di Pulau Jawa ini dilaporkan oleh peneliti geologi Belanda, R.D.M. Verbeek dan R. Fennema pada 1881. R. Fennema - yang membantu R.D.M. Verbeek - merasa beruntung untuk pertama kali menemukan “tanah dasar Pulau Jawa,” yaitu batuan, di atas mana terletak batuan sedimen dan batuan gunung api yang lebih muda. Sedangkan tulisan R.D.M. Verbeek, 1891, menyangkut penemuan fosil Nummulites dan Orbitulina dari Luk Ulo, Jawa Tengah.
Setelah hampir 100 tahun kemudian batuan tua itu diukur umurnya, dan menunjukkan angka 117 juta tahun (Ketner, dkk., 1976). Setelah daerah ini dipetakan oleh Ch.E.A. Harloff (1933), baru setelah Perang Dunia Kedua daerah ini kembali menjadi objek penelitian (Tjia, 1966; Asikin, 1974). Sukendar Asikin adalah orang pertama yang mengulas geologi daerah Karangsambung berdasarkan Teori Tektonik Lempeng.
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari hasil pembelajaran luar kelas yang dilakukan di Balai Informasi dan Konservasi Kebumian Karangsambung diperoleh hasil :
Ø Sepanjang jalur jalan menuju kawasan konservasi merupakan daerah yang rentan terhadap pergerakan tanah.
Ø Geomorfologi Karangsambung terdiri dari satuan daratan pada daerah aliran sungai (DAS) Luk Ulo,satuan perbukitan lipatan, satuan perbukitan-pegunungan Kompleks Melange serta lajur Pegunungan Serayu Selatan.
Ø Karangsambung memiliki beragam jenis batuan disebabkan karena adanya tubrukan lempeng samudera dan lempeng benua.
Ø Batuan yang terdapat di Karangsambung dimulai dari batuan beku yang terdiri dari Diabas dan Basalt (lava bantal), batuan sedimen yang terdiri dari Rijang dan Gamping Merah, serta batuan metamorf yang terdiri dari Serpentinit, Sekis Mika dan Filit.
DAFTAR PUSTAKA
Mulyo, Bambang Nianto. 2013. Geografi untuk Kelas X SMA dan MA Kelompok Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial. Solo: PT Wangsa Jatra Lestari.
http://www.harianterbit.com/hanteriptek/read/2015/02/17/19744/34/22/LIPI-Terima-Hibah-Bukit-Seluas-13.640-Meter-dari-Warga-Kebumen
LAMPIRAN
Kali Muncar (Watukelir)
Sungai Luk Ulo
Kali Muncar (Watukelir)
Batu foliasi metamorf
Batu gnef
Batu metamorf sekismika
Batu porfiritik
Batu rijang
Batu setengah metamorf
Moult Pacitan
Kali Muncar (Watukelir)
Gunung Parang