Selasa, 12 Juli 2016

CERIA "Cerita Lebaran Asyik" Diaryhijaber

Assalamu'alaikum Sahabat ^^

Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum
Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin

Hari Rabu yang lalu tanggal 6 Juli 2016 bertepatan dengan 1 Syawal 1437 H, menandakan berakhirnya bulan Ramadhan tahun ini.
Banyak cara yang dilakukan orang-orang di seluruh belahan dunia dalam menyambut, menjalani, dan mengakhiri bulan suci nan berkah ini.

Kenapa saya katakan 'orang-orang'? Kenapa tidak saya katakan muslim? Karena tidak hanya muslim saja yang begitu bersemangat menyambut bulan ini. Contohnya saja seperti di Israel, dimana seorang lelaki Israel membangunkan sahur umat muslim disana dengan menabuh bedhug kecil yang merupakan sebuah tradisi. Atau sebuah komunitas Kristiani yang menyediakan ta'jil untuk berbuka puasa di salah satu gereja dengan kehalalan yang terjamin. Umat muslimpun tak kalah dalam mencari keberkahan di bulan ini.

Apa yang dilakukan oleh umat agama lain dalam menyambut dan menjalankan bulan Ramadhan kemarin bukanlah sesuatu yang malah harus diperdebatkan. Ini merupakan bentuk toleransi, saling mengasihi-menyayangi-menghargai antar umat beragama. Tak peduli akan ancaman terorisme yang semakin menjamur dan kampanye-kampanye anti-muslim.

Sholat Idul Fitri yang telah kita laksanakan merupakan salah satu kemenangan yang telah kita raih. Kemenangan yang harus dipertahankan dengan terus meningkatkan kualitas diri (ini juga merupakan note untuk saya). Hal yang lumrah ditemui saat lebaran adalah silaturahmi-saling memaafkan, kuliner, dan THR. Tradisi silaturahmi-saling memaafkan biasa dikenal dengan istilah Halal bi Halal di Indonesia. Tradisi yang asli asalnya dari bumi pertiwi. Melempar senyum ikhlas dengan mengulurkan tangan serta menjabat tangan saudara kita yang lain. Mengucap kata maaf atas segala perbuatan yang lalu.

Sedih rasanya disaat berbahagia seperti itu dilewati tanpa salah satu orang terkasih, yang entah karena tidak bisa berkumpul bersama atau sudah lebih dulu dipanggil oleh Alloh SWT. Saya melewatkan lebaran kali ini tanpa kehadiran Eyang Buyut saya yang telah pergi ke hadirat-Nya. Alhamdulillah, saya masih bisa bersilaturahmi dengan Eyang saya yang berangsur-angsur pulih dari sakit tua nya dan juga kedua orang tua saya. Ditambah kehadiran dari keponakan saya yang sangat senang berceloteh. Ah, akhirnya saya dipanggil tante. Hahaha.

Meminta maaf yang paling berat menurut saya itu kepada orang tua saya. Mengingat segala kesalahan yang telah saya perbuat ke Beliau berdua hampir membuat saya meneteskan air mata. Saya tidak bisa menangis di depan mereka karena saya hanya akan menangis di belakang mereka. Rasanya tidak nyaman kalau saya menangis di depan mereka.

Sekarang mungkin adalah bagian yang cukup ditunggu, yah kuliner lebaran wkwk. Ketupat selalu berada di list pertama kuliner keluarga saya. Sambal goreng kentang, daging sapi yang dibumbu lapis, ayam goreng, pepes ikan, dan kueh kering.
List kueh kering ada putri salju, kueh kacang, kacang umpet, kacang telor, sriping pisang, dan kuping gajah. Saya rasa lebaran tahun ini tidak ada kueh basah yang biasa Eyang Putri saya hidangkan, yaitu hawug-hawug. Mungkin karena Beliau sudah sepuh dan tidak ada yang bisa membuat seenak Eyang Putri saya.

Jeng jeng jeng .....

Nah, bagian yang sangat sangat sangat ditunggu tiba, apalagi kalau bukan THR. Hahaha.
Ehem, berhubung saya masih pelajar SMA, saya hanya bisa menunggu datangnya THR dari Pakdhe-Budhe atau Paklek-Bulek saya.
Sebenarnya agak canggung juga mengingat saya sudah besar tapi dikasih THR masih mau. Tapi ya namanya rezeki masa ya ditolak, wkwk. Lagian saya juga belum bisa kasih adek-adek sepupu atau keponakan saya THR, orang belum berpenghasilan sendiri.
Alhasil THR yang saya dapat cukup mengalami penurunan yang signifikan. Hufft, syukuri sajalah, berapapun yang didapat semoga berkah bagi saya.

Saya tau ada yang kurang di sini. Apa itu? Iya, mudik.

Mudik saya kali ini dilakukan 2 hari setelah lebaran, tepatnya hari Jum'at tanggal 8 Juli 2016.
Saya mudik bersama kedua orang tua saya menggunakan motor. Saya dibonceng Bapak saya, dan Ibu saya mengendarai sendiri motor yang satunya. Tujuan kami adalah Batang, tempat Paklek dari Ibu saya.

Dari Purwokerto, kami memasuki Purbalingga. Awalnya memang jalan masih rata tapi memasuki rute menuju Pekalongan, jalan mulai menanjak layaknya jalan di daerah pegunungan. Namun, suasana yang sejuk dan pemandangan yang menyegarkan mata mampu mengimbangi kontur jalan yang menanjak. Meskipun di tengah perjalanan kami terjebak macet dan menyebabkan kami harus istirahat untuk mendinginkan mesin motor kami agar kuat berjalan menanjak lagi.

Sesudah Purbalingga, kami masuk wilayah Pemalang. Cukup sejuk di daerah yang berbatasan dengan Purbalingga, tapi agak panas di wilayah Kota Pemalang. Pekalongan, ah kota batik ini juga agak panas, terlebih di daerah pasar. Kami beristirahat kembali dan membeli dawet ayu khas Pekalongan. Setidaknya dawet ini dapat menyembuhkan dahaga kami. Kamipun melanjutkan perjalanan menuju kota selanjutnya, tujuan kami sebenarnya, Batang.

Kabupaten Batang yang saya kira memiliki wilayah sedikit ternyata lumayan luas juga. Di belakang alun-alun Batang terdapat jalan menuju desa-desa yang ada di Batang. Rumah Paklek saya terletak di Desa Bandar, desa yang saya kira dekat dari alun-alun ternyata sangat jauh. Jalan menuju ke Bandar memang mulus, aspal semua, dan saya cukup terheran.
Di daerah yang saya kategorikan pedalaman tapi tidak terisolir (tentu saja), fasilitas yang ada sangat memadai. Tempat belanja, sekolah, pom bensin, kantor polisi, puskesmas, terminal bus, padahal daerah ini jauh dari kota.

Akhirnya saya sampai di desa Bandar. Karena saya dan orang tua saya belum tau dimana lokasi tepatnya rumah Paklek saya. Kami menunggu di dekat salah satu minimarket masuk wilayah Bandar. Sekitar seperempat jam kami menunggu, Paklek saya datang menjemput kami bersama Bulek naik sepeda motor. Kami mengikuti motor Paklek. Kembali saya terheran dan menyalahkan perkiraan saya.
Saya kira rumah Paklek tinggal beberapa meter dari tempat kami berhenti tadi, tapi ternyata ada sekitar 2 km lagi. Belokan pertama dengan jalan menurun lalu lurus. Kemudian kami berbelok lagi dimana jalan yang kami tempuh saat ini adalah menanjak. Yah, persis seperti jalan desa di kaki pegunungan. Ladang warga dipinggir jalan, pohon rindang, menyejukkan.
Daaan, alhamdulillah kami tiba di rumah Paklek. Kami hanya bermalam 1 malam saja karena Bapak saya harus segera kembali ke Jakarta untuk menafkahi saya dan Ibu saya.

Keesokan harinya, tanggal 9 Juli 2016, kami meninggalkan rumah Paklek saya.
Kami memilih rute yang berbeda saat berangkat atas rekomendasi Paklek saya. Beliau bilang rute ini adalah rute dingin dan sejuk sehingga nyaman bagi pengendara motor seperti kami. Rute menuju Dataran Tinggi Dieng tentu saja dingin yah wkwk.

Inilah perjalanan kami yang sebenarnya . . . .

Dari terminal Bandar, kami hanya perlu lurus saja, tak ada belokan sama sekali. Saya lihat awalnya saja sudah menanjak, apalagi seterusnya.
Dan benar saja, jalan menanjak tanpa henti dan disertai tikungan yang cukup curam. Saya bahkan harus bolak-balik jalan kaki karena motor Bapak saya tidak kuat membawa beban. Hufftt.


Tapi perjalanan ini setimpal dengan apa yang didapat. Pemandangan hutan pinus di sepanjang jalan, lalu kebun teh, dan ladang petani. Keluar dari kawasan hutan, kami melalui jalan desa ini.


Sembari saya fokus ke jalan yang lumayan bekerikil, saya juga dapat melihat tanaman-tanaman yang ditanam petani disini. Ada kubis, cabai, bawang merah, kentang, pepaya, dan padi tentunya. Saya hanya sempat memotret ini saja.


Lebih menanjak lagi, kami disuguhi pemandangan yang membuat kami mengucapkan 'Masyaallah' berkali-kali.






Saya juga menyempatkan untuk selfie disini.


Setelah kami melewati banyak tanjakan dan juga tikungan. Jalan yang terjal maupun mulus. Udara yang sejuk bercampur panas dari tubuh. Perjuangan dan tekad yang saling menyatu. Akhirnya kami sampai di puncak. Tapi lagi-lagi saya tidak sempat berselfie ria di sini karena keterbatasan waktu kami.

Hingga Bapak saya memutuskan berhenti di sini dan kamipun mengambil foto bersama. Hahaha.
Maafkan wajah-wajah kami yang kusam ini yaaa.







Yahh di sini kami juga berkali-kali mengucap Masyaallah.
Kalau sudah seperti ini maka





----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sebelum postingan saya tentang Cerita Lebaran Asyik ini ditutup, saya akan menyampaikan upcoming event yang bener-bener asyik dan pastinya seru banget buat diikuti oleh para ukhti atau hijabers dimanapun kalian berada.
Mau tau apa nama eventnya??

Yak, eventnya adalah Hari Hijaber Nasional yang diselenggerakan oleh Diaryhijaber.
Berikut detail acara tersebut :

Nama acara : Hari Hijaber Nasional
Waktu         : 07 - 09 Agustus 2016
Tempat        : Masjid Agung Sunda Kelapa

Ayo ikutan event ini! Selain bisa ngumpul sesama hijaber, kita juga bisa memperluas pergaulan, sharing-sharing, dan dapet info-info baru yang bermanfaat di event ini^^
Mari kita manfaatkan waktu yang kita punya dengan kegiatan yang bermanfaat dan berkah!!

Wassalam'alaikum.